BAB
III
URAIAN
PROSES RECOVERY BOILER
1.
Data
Technical di Recovery Boiler
1.1 Data
Umum
-
Manufacturer A. Ahlostrom
Corp. Boiler
Works, Varkaus Finland
·
Design Pressure 80 kg/cm2 G
·
Kapasitas, dry solids 903,9
TDS/D
·
Steam generasi 43 kg/sec (154,8 T/H)
·
Steam Pressure 65 bar
·
Suhu inlet Food Water 1380
C
·
Suhu Udara Luar 250
1.2 Heating
Surface
·
Economizer 10500 m2
·
Bank Tube 3900 m2
·
Super heater 3100 m2
·
Furnace Wall 1/33 m2
2.
Bagian-Bagian
Boiler Pressure
Boiler yang dipakai PT Toba Pulp Lestari adalah
boiler pipa air dengan 2 drum yang
dilengkapi dengan economizer dan superheater sebelah kanan dan sebelah kiri
dari dinding furnace tersedia masing-masing 3 liquor spray gun yang posisinya
kira-kira 6 meter dari dasar furnace.
Didalam
dinding furnace mempunyai 3 jalur udara:
-
Primary air port 1,3 meter dari botton tube
-
Secondary air port 2,6 meter
dari pipa dasar
-
Tertitary air port posisinya di atas
spray gun dan tertitary air port hanya dibuat pada 2 posisi saja
-
Start up oil burners dipasang di atas
primary air level
-
Start up oil burners terdiri dari 6 set
(2 kanan, 2 kiri, dan 2 belakang) dengan kapasitas 500 kg/hr
3.
Sistem
Pendistribusian Udara
Sistem
ini terdiri dari primary air fan, secondary air fan, air preheater dan ducting.
Primary combustion air supply dengan fan
dan di distribusikan di sekitar bagian bawah furnace, dan di blow ke dalam
furnace melalui nozzle yang dilengkapi dengan burners, udara preheater berada
berada di outlet fan yang berfungsi untuk menaikkan temperature sebelum
memasuki furnace.
4.
Peralatan
Sootblowing
Type
sootblower adalah F 374 – 379 yang dapat maju mundur, soot blower berjumlah 25
buah.
-
11 buah di area superheater
-
6 buah di boiler bank
-
8 buah di economizer
5.
Peralatan
Ash Handling
Alat
untuk membawa abu berposisi di sebelah bawah economizer, selama sootblowing abu
akan di transportasikan dan dikumpul di Mixing Tank.
6.
Peralatan
Oil Burner
Boiler
dilengkapi dengan oil burner untuk start up, shut down dan juga digunnakan
untuk menstabilkan pembakaran didalam
furnace. Burner mempunyai type system-atomized yang mempunyai capsiitas 500
kg/hr setiap burner.
7.
Peralatan
Black Liquor Burning
Sistem
ini dilengkapi dengan peralatan dibawah
ini.
7.1 Mixing
Tank
1 unit, 2300 mm Dia x
3610 mm H kapasitas 15 M3 dan dilengkapi dengan mixer.
7.2 Pompa
Liquor Spray
2 unit , type
cenrifugal capasitas 930 1/menit, head 30 m dan juga mempunyai variabel speed.
7.3 Liquor
Heater
2 unit, direct dan indirect
7.4 Liquor
Guns
6 set, dimana pada ujung guns
terdapat noozle
8.
Peralatan
Green Liquor Handling
8.1 Dissloving
Tank
1 unit, 7500 mm Dia x
680 mm H, 150 M3 capasitas dan dilengkapi 2 agiator, dissolving tank mempunyai alat pembuang gas
yang disebut vent pipe.
8.2 Pompa
Green Liquor
2 unit, Type Centrifugal dan capasitas
1800 1/menit, head 30 m dilengkapi dengan variabel speed.
9.
Peralatan
Flue Gas
9.1 Electostastic
Precipitator (ESP)
1 unit, 2 chamber
dengan capasitas 59,4 m3/s, ESP berfungsi untuk menyerap abu yang
bercampur dengan flue gas yang akan dibuang ke atmosphire. ESP dapat menyerap
abu 98,5 %.
9.2 Induced
Draft Fan (ID fan)
2 unit type centrifugal
variabel speed.
9.3 Stack
Alat pembuang gas
9.4 Ducting
Sebagai saluran gas yang
dihubungkan ke stack.
10. Interlock
dan System Safety
10.1
Boiler Water Low Level
Sistem pengaman ini akan
menutup semua bahan bakar ke boiler ketika drum level turun ke 175 mm dibawah
normal water level.
10.2
Safety Valves
Untuk mencegah boiler
over pressure yaitu apabila melebihi dari desain maka safety valves akan
membuka
10.3
Furnace maximum pressure
Yaitu apabila pressure
furnace diatas dari desain maka semua bahan bakar yang akan masuk ke boiler
akan tertutp secara otomatis
10.4
Burner Interlock
Oil burner ini adalah
semi otomatis dilengkapi dengan aotumatic igniton control dan shut down
instrumen.
10.5
Emergency Shut Down
Di control room disediakan panel button
shut down, dimana apabila ada kejadian dilapangan misalnya boiler bocor ke
furnace maka dapat ditekan button emergency shut down.
10.6
Emergency Rapid Drain
Ini dilakukan dalam hal berbahaya,
sebagai contoh terjadi ledakan di furnace yang disebabkan oleh masuknya air ke
furnace, boiler dapat di draine selama 30 menit, hal ini dapat dilakukan secara
otomatis dengan menekan emergency rapid drain di control room.
10.7
Sootblowing
Sootblowing dibuat secara automatic
control room dan sootblower bekerja sesuai dengan sequence.
10.8
Control yang lain adalah
Drum level control, steam temperature, furnace draft
dan aliran udara pembakaran.
11. Steam dan Feed Water System
11.1
Uraian
proses secara umum
Feed
water dipompakan masuk melalui “Inlet Lower Header” Economizer no.1 dan dari
Header ECO’1 masuk ke Lower Header ECO’2, kemudian dari Header masuk ke “steam
attemperators condensors” yang akhirnya diteruskan ke steam drum.
Steam attemperators condensors di tempatkan ditempat pararel
diatas atap (roof). Boiler yang terhubungkan dengan dua pipa dari upper header
ECO’2 dan dari condensor masing-masing bersambung lagi ke bagian sisi kiri dan
kanan dari steam drum boiler.
Setiap condensor terdiri dari sebuah shell dangna feed water tube
pada bagian atas (upper) dan sebuah buffer volume (volume penahan) pada bagian
bawah. Saturated steam dari steam drum dikondensasikan dan masuk ke dalam
buffer volume sebelum di injeksikan ke steam attemperation/flow feed water ke
boiler di atur dengan feed water control valve yang menerima signal dari sebuah
Three point control loop. Setelah air mengalir melalui ECO dan attemperation
condensor air masuk ke steam drum melalui dua inlet nozzle yang dihubungkan
oleh sebuah pipa distribusi yangberlokasi di bagian bawah steam drum. Dari
steam drum air mengalir turun melalui dua buah down corner ke header-header
dari furnace wall. Air bersirkulasi melalui furnace wall dari generating bank.
Sebagian air akan mengalami pengumpan
dan uap itu masuk melalui collecting header dan naik ke steam drum dimana steam
dipisahkan dari campuran steam dan air oleh cyclone dan scrubber dari steam
drum. Campuran steam dan air dipisahkan di dalam cyclone dengan adanya gaya
centrifugal, air keluar dari shell cyclones dan selanjutnya dikeluarkan melalui
sebuah “control opening” pada bagian cyclones. Setelah dari cyclones steam
kemudian masuk ke primary separator yang ada terpasang di atas setiap cyclones
dan akhirnya lewat melalui sebuah main scrubber yang berlokasi pada bagian atas
didalam steam drum.
Steam saturated dari steam drum dijadikan superheated steam
oleh adanya flue gas dari furnace melalui empat kelompok tube banks yaitu
melewati secondary superheater yang berlokasi pada bagian pertama yang dilalui
ole arah aliran flue gas, kemudian tertitary superheater dan selanjutnya
melalui primary superheater no.2 dan secondary superheater no.2.
Steam masuk dari steam
drum ke inlet Header primary superheater no.1, dan dipanasi di dalam
superheater no.1 dan keluar pada outlet heater untuk lanjut masuk ke primary
superheater no.2 melalui dua buah pipa yang terkoneksi, steam yang masuk ke
kedua primary superheater ini adalah dengan arah berlawanan (Counter Flow
Direction) dengan arah flue gas. Dari outlet header primary superheater no.2
steam lewat melalui pipa eksternal masuk
ke Inlet Header (secondary superheater), perpipaan ini diatur secara silang
demi menjaga keseimbangan temperatur dan flue gas, superheated steam dari
secondary superheater selanjutnya masuk ke tertitary superheater dan akhirnya
dari tertitary superheater keluar ke pipa main steam untuk mengontrol steam
temperatur, spray attemporator berlokasi dan berhubungan di antara primary
superheater no.2 dengan secondary superheater dan diantara secondary
superheater dan tertitary superheater pada secondary dan tertitary superheater
steam mengalir dengan arah yang pararel dengan flue gas.
Tujuan
desain aliran pararel ini adalah untuk mencegah pembongkaran (exposing)
pipa-pipa yang sama akibat pengaruh
“heat radiasi”yang tinggi pada furnace pada bagian atas terhadap temperature
steam yang tinggi dicapai didalam superheated pipa outlet. Jadi dengan desain
ini dapat menjamin temperature metal akan dapat serendah mungkin main steam
line mempunyai indicator pressure, temperatur dan flow yang juga dilengkapi
dengan sebuah safety valve dan sebuah by pass valve yang kecil yang dapat
digunakan untuk pemanasan main steam line sewaktu start-up. Start-up line
dikoreksi dari main main steam line dan sekaligus juga exhaust safety valve di
satukan dalm sebuah silencer diatas boiler analisis kwalitas steam dan air,
dipasnag sebanyak 7 sampel taking untuk pengecekan Boiler Water dari steam
drum, saturated steam, superheated steam dari main steam line, condensate dari
setiap condensor, demin water ke daerator dan feed water, sample diambil dari
setiap outlet cooler dimana medium pendingin dari cooler digunakan mill water.
Boiler water sample harus mempunyai indikasi yang continue terhadap pH dan
conductivity untuk mempertahankan kualitas steam dan air pada sistem, chemical
harus ditambah di steam drum, Hydrazin di injeksi pada aliran feed water, unit
ini dilengkapi dangan sebuah blow down tank yang menampung beberapa drain dari
system, sperti boiler blow down, drain dari system, drain dari system, drain
header dan drain sootblower.
11.2
Boiler
Safety valve
Boiler
ini dilindungi terhadap tekanan yang berlebih oleh 5 buah safety valve, yang
pertama membuka sesuai dengan tekanan desain dari boiler dan yang terkahir
membuka pada tekanan 3% diatas tekanan desain boiler. Safety valve main steam
line mempunyai setting tekanan sebesar 6 bar diatas normal tekanan steam superheater
demi menjaga supaya main steam safety valve lebih dulu terbuka dari steam drum
safety valve.
11.3
Boiler
Blow Down
Disamping
mempertahankan sejumlah dissolved substance (partikel yang terlarut) yang di
ijinkan pad boiler water adalah perlu untuk mengadakan blow dalam jumlah
sedikit dari boiler water system yang bertujuan untuk membuang “suspended
particler” seperti iron oxider ( Fe2O3), silica dan
lumpur yang terbentuk akibatnya penambahan phospate dan juga dapat berfungsi
untuk menghilangkan sisa kesadahan yang tinggi pada boiler water. Flow dari CBD di atur oleh sebuah controller,
Boiler water dikirim ke CBD tank steam yang terjadi pada saat adanya flashing
untuk ke daerator. Condensate yang ada pada CBD tank didinginkan dengan air
terlebih dahulu selalu di buang ke parit.
11.4
Steam
Drum Level Control
Level
steam drum yang konstan di pertahankan oleh adanya flow dari feed water.
Pengukuran dari flow steam memberikan sebuah signal terhadap controller flow
air, steam drum level controller mengatur level dari signal ini, kemudian flow
dari feed water diatur oleh control valve pada feed water line. Boiler
dilengkapi dengan alat pengaman low dan high level switch pada drum yang mana
boiler akan trip apabila level jatuh dibwah normal (low-low-level) dan level
jauh diatas normal (high-high-level), indicator yang disebutkan diatas
mempunyai tanda alarm untuk level low dan level high sebagai tanda peringatan
sebelum batas trip dicapai.
11.5
Control
Temperature Steam
Temperature
steam superheater biasanya dipertahankan oleh water attemperation
(Desuperheater) diamna condensate di injeksikan melalui spray nozzle didalam 2
stage (tahap). Tahap pertama diantara primary superheater dengan secondary
superheater dan pada tahap kedua
diantara secondary dan tertitary superheater. Spray nozzle posisinya terletak
pada bagian tengah “venture section” diman steam mengalir melalui nozzle dan
mengabsorbsi kabut air dari hasil injection yang akhirnya mengalir melalui
venture yang kemudian mengalami campuran yang sempurna. Untuk menghindari
pengaruh dari solid content seperti silica dan garam-garam lain, kualitas feed
water dijaga dengan sesuai standart. Karena adanya perbedaan tekanan antara
steam drum dengan nozzle yang disebabkan oleh penurunan tekanan pada koneksi
perpiaan dan superheater, air akan ditekan kedalam spray nozzle dengan bantuan
control valve yang dapat mengontrol tekanan secara akurat. Setiap control valve
mempunyai by pass lengkap dengan manual valve dimana tujuannya kalau control
valve rusak maka steam temperature dapat diatur dengan by pass. Pada tahap
kedua jumlah dari condensate diatur sedemikian rupa untuk menjaga temperature
outlet dari tertitery superheater sesuai dengan set point yang diinginkan.
Setiap sisi dari superheater mempunyai control loop yang dapat mencegah
ketidakseimbangan aliran steam dalam pipa, pada tahap pertama temperature
outlet secondary superheater dikontrol dengan cara yang sama, cuma hanya dapat
digunakan selama menaikkan kondisi dan selama start-up apabila superheater
sudah bersih. Temperature steam attemperator perlu diingat supaya selalu
setidak-tidaknya 2800 C diatas tempearture steam saturated demi
mencegah kerusakan pipa akibat adanya thermal shock yang disebabkan terjadinya
steam basah.
11.6
Kualitas
Boiller Water dan Feed Water
Standar
kualitas yang diberikan dibawah ini adalah standart yang diijinkan dan harus
dibandingkan dengan indikasi yang didapat terutama pada start-up. Feed water
juga harus dianalisa Ph, Fe dan Oxygen dan bila perlu dianalisa silicanya.
Standart kualitas feed
water yang diijinkan adalah sebagai berikut
-
Secara visual Bersih dan bening
-
pH pada 250 C 9,1- 9,6
-
Oxygen (O2) mg/kg max 0,03
-
Iron (Fe) mg/kg max
0,02
-
Copper
(Cu) mg/kg max 0,005
-
Silica (SiO2) mg/kg max 0,02
-
Conductivity ms/m max
0,02
Dissolved
solid masuk kedalam steam disebabkan oleh kelarutan dari solid didalam steam
atau air mengalami penurunan, kelarutan daripada solid yang dapat larut didalam
steam dan air tergantung kepada tekanan dan temperature, solid atau substance
yang paling banyak terdapat adalah steam saturated biasanya dapat mengendap
didalam superheater dan pad turbin blade,
apabila steam yang diproduksi mempunyai temperature yang rendah akibat
adanya carry over.
Untuk
memperkecil masalah-masalah diatas berikut ini kualitas Boiler water yang
diijikan.
-
Secara manual Bersih dan bening
-
Ph pada 250 0,5-
10,5
-
Conductivity ms/m max
3,0
-
Sodium (Na) mg/kg max
4,0
-
Silica (SiO2) mg/kg max 4
Saturated
steam quality
-
Fe ppm 0,02
-
Cu ppm 0,003
-
SiO2 ppm 0,02
-
Na ppm 0,1
-
Conductivity ppm 0,2
12.
Air
combustion system
12.1
Uraian
umum Air Combustion System
Kebutuhan
udara untuk pembakaran Heavy Black Liquor dan bahan bakar solar di supply
melalui 3 unit Forced Draft Fan yang diberi nama: Primary, Secondary dan
Tertitary Forced Draft Fan (FDF). Udara dimasukkan dari FDF melalui air port/winbox.
Udara dari primary FDF dan dihembuskan menuju primary, secondary dan tertitary
winbox. Udara dari primary FDF dihembuskan menuju primary air ducting yang
terpasang di sekliling dinding luar dari furnace yang selanjutnya
didistribusikan ke setiap winbox. Udara dari secondary FDF di heembuskan menuju
secondary air duct ring yang terpasang disekeliling furnace yang selanjutnya
didistribusikan ke setiap lubang winbox melalui pengaturan masing-masing damper
air port. Secondary air port berada pada level sekitar 4 meter diatas furnace
floor dimana pada setiap load tersebut dihubungkan start-up burner. Udara dari
tertitary air fan dihembuskan menuju tertitary
air duct ring yang terpasang pada dinding luar furnace bagian depan dan
belakang. Udara primary dan secondary dipanaskan terlebih dahulu pada
masing-masing air heater sebelum didistribusikan ke air duct ring dan udara
tertitary akan didistribusikan langsung tanpa pemanasan.
12.2
Pengontrolan
udara pembakaran
Flow
udara primary, secondary dan tertitary diukur dengan flow meter dan dikontrol
dengan pengaturan inlet dumper pada masing-masing fan. Tingkat pembagian dari
total flow udara pembakaran yang didistribusikan ke setiap level air port diseimbangkan
sedemikian rupa agar tercpai pembakaran yang sempurna. Dengan pengaturan udara
ini diharapkan pembakaran didaerah primary berlangsung tekanan dibawah
atmosphire, agar reaksi pembentukan Na2S dapat sempurna dan pada
temperature yang pantas didaerah smelt bed (charbed) bagian bawah furnace
sementara pada level secondary pemberian udara akan menyempurnakan pengeringan
black liquor sebelum terbakar sekaligus membantu pembakaran oleh udara primary
dan tertitary. Pemberian udara tertitary akan menyempurnakan pembakaran black
liquor dari daerah level primary dan secondary. Biasanya untuk beban pembakaran
yang lebih tinggi pada total solid black liquor dibutuhkan pemakaian udara
tertitary yang lebih banyak.
12.3
Combustion
Air Heater (Pemanas Udara Pembakaran)
Jika memasukan
udara pembakaran kedalam furnace melalui primary dan secondary air fan terlebih
dahulu dipanasi pada steam coil air preheater primary dan secondary coil
preheater yang mana keduanya mempunyai desain yang sama yaitu setiap heater
mempunyai dua tahapan. Pada tahapan pertama udara pembakaran dipanasi dengan
steam Low Pressure (3 bar) dan selanjutnya dipanasi dengan Medium Pressure
steam untuk mendapatkan udara sampai 1500 C. Pada air preheater
udara masuk secara vertikal, sementara condensate yang terjadi didalam finned
tube akan keluar melalui pipa horizontal yang mempunyai kemiringan tertentu
sehingga lebih mudah keluar dari finned tube. Condensate yang terjadi pad
bagian medium pressure dari setiap air heater akan di transfer kesebuah medium
pressure condensate receiver tank dengan adanya gaya gravitasi dan condensate
receiver tank ini akan dipertahankan oleh sebuah vent kecil pada bagian atas
tank yang selanjutnya dihubungkan ke medium pressure steam system.
13.
Flue Gas System
Flue gas terbentuk akibat adanya pembakaran dari
bahan bakar black liquor atau fuel oil dimana flue gas ini akan tertarik
melalui superheater bank, generating bank, economizer bank, dan electrostatic
precipitator oleh dua buah Induced Draft Fan (IDF). Tujuan pengontrolan
pressure dari furnace adalah untuk menjaga tekanan didalam bagian atas furnace
tetap konstan. Pengontrolan ini terjadi oleh adanya sigal dari furnace pressure
indicator yang mengatur speed putaran ID fan yang membalance pressure didalam
furnace didalam boiler.
Recovery boiler ini dilindungi
terhadap tekanan yang sangat tinggi apabila terjadi sebuah pressure switch
dimana primary dan secondary air fan akan trip dengan sendirinya apabila
terjadi tekanan furnace yang sangat tinggi. Untuk tekanan furnace yang sangat
rendah juga dapat membuat ID fan trip dengan sendirinya. Karena itu furnace
pressure controller dan precipitator outlet duct pressure indicator mempunyai
informasi alaram untuk low dan high yang di set ke normal press untuk
memberikan aba-aba dan memberikan tindakan mencegah boiler trip. Pada proses
pembakaran black liquor didalam furnace charbe yang terbentuk selain berubah
menjadi smelt juga dapat mengahsilkan senyawa sodium dan senyawa sulfur yang
berbentuk abu dimana abu akan diolah kembali ke proses pembakaran.
14.
Oil
Burner System
14.1
Uraian
umum oil burner
Recovery boiler tidak
dapat di start pada keadaan dingin dengan balack liquor secara langsung, jadi
boiler harus dipanasi sekaligus menaikkan tekanan dengan menggunakan start-up
burner yang banyaknya ada 6 unit. Apabila pembakaran balck liquor sudah berjalan
maka start-up burner harus berada pada keadaan stand by. Untuk mengatasi jika
ada terjadi gangguan tiba-tiba pada pembakaran black liquor ataupun kemungkinan
gangguan-gangguan lain yang dapat mempengaruhi ke
kelancaran produksi.
Start-up burner tempatnya berada didaerah secondary air duct dan udara
pembakaran di supply oleh secondary air fan serta dilengkapi dengan gas
igniters untuk membantu mempermudah start.
14.2
Fuel
Oil System
Fuel oil system
dirancang bertujuan untuk dapat mensupply
bahan bakar minyak (fuel oil) pada temperatur dan tekanan yang tepat.
Pada setiap burner berikut ini akan diuraikan fuel oil system fdan componen yang ada pad system terebut.
a. Thermometer
untuk local indikasi temperature oil
b. Pressure
gauge untuk local indikasi tekanan oil
c. Mempunyai
pompa oil pada posisi pararel yang dilengkapi dengan filter/strainer
d. Pada
outlet setiap pompa dilengkapi dengan masing-masing sebuah pressure gauge untuk
indikasi pressure outlet
e. Main
pressure control loop berfungsi untuk mengontrol tekanan di outlet
f. Main
oil header yang dilengkapi dengan safety shut-off valve
g. Flow
meter dengan kapasitas yang maximum
h. Pressure
control valve yang sanggup mengontrol secara akurat tekanan oil burner
i.
Sebuah low pressure switch untuk dapat
mengontrol burner apabila tekanan oil yang rendah terjadi pada oil header
pressure
j.
Sebuah high pressure untuk dapat
menginterlock burner pada saat start terjadi tekanan yang tinggi pada oil
header pressure
k. Temperature
dan pressure gauge indication.
14.3
System
udara pembakaran
Burner terletak didalam
secondary air register, setiap burner terpisah, flow udara pembakaran dikontrol
secara manual dengan damper yang ada pad burner. Setiap burner dipasang sebuah
pressure gauge sebagai indikasi tekanan udara dan sebuah pressure switch untuk
interlock burner pada tekananan yang rendah.
14.4
System
Atomazation steam terhadap oil
Sebagai steam
atomazation untuk bahan bakar solar pada burner digunakan steam medium pressure
yaitu untuk dapat memperoleh tekanan kira-kira 6-7 bar. Komponen utama yang
terdapat pada sistem atomazation ini adalah:
a. Pressure
gauge yang menunjukan besarnya tekanan
b. Pressure
control valve yang berfungsi untuk mengatur tekanan
c. Steam
trap arrangment yang terletak diujung pipa steam atomazation.
14.5
Buner
Design
Jumlah burner yang
digunakan di recovery boiler ada sebanyak 6 unit dengan tipe start-up burner
yang berlokasi pad daerah secondary air port dengan menggunakan solar sebagai
bahan bakar dan steam medium pressure sebagai media atomazation (steam
pengabut), udara ke burner dapat diatur oleh air dumper didalam burner, dimana
dumper tersebut tidak harus tertutup kalau burner dalam keadaan stop karena
burner juga perlu pendinginan. Burner ini juga dilengkapi dengan sebuah barrel
register (drum pengatur panas). Burner juga mempunyai gas fired igniter yang
dipasang didalam register udara. Igniter pada keadaan “in service” hanya
sewaktu light-off secara automatically ketika trial igniter time untuk burner
telah habis kemudian burner juga dipasang sebuah sliding gate untuk menutup
lubang dari igniter dan melindungi igniter sewaktu tidak beroperasi.
14.6
Pengoperasian
Burner
Adapun prosedur
pengoperasian dari setiap burner dilaksanakan seperti berikut:
a. Diperiksa
burner air register dan dibersihkan kalau perlu
b. Dipasang
burner gun yang bersih, selanjutnya disambungkan selang oil dan selang steam
(flexible hose)
c. Masukkan
burner gun
d. Kemudian
di manual valve untuk oil automizing
steam dan ignition gas
e. Dibuka
igniter door
f. Diatur
tekanan udara register didalam burner
g. Kemudian
ditekan tombol “Burner start” pada local control box (setelah ditekan maka akan
menyala setelah 30 detik kemudian)
h. Ditekan
sambil menahan “Igniter start”, pada local expansion (apabila tombol diaktifkan
maka valve dari igniter gas akan terbuka dan igniter transformer diaktifkan
selama 5 menit
i.
Diperiksa igniter flame dengan
melihatnya melalui Inspection Glass
j.
Dibuka manual safety shut off valve oil
k. Dilepaskan
tombol “Igniter Start” pada expansion box
l.
Ditutup igniter door
m. Dibersihkan
lubang udara dari burner pada interval waktu yang sama selama adanya
pengoperasian burner.
14.7
Prosedure
Shut down Burner
a. Dibuat
posisi dari Three way valve
b. Ditekan
tombol “Burner Stop” pada local control box
c. Ditunggu
kira-kira 1 menit
d. Kemudian
dibuat posisi Three way valve pada fire position
e. Ditutup
manual valve untuk oil automizing steam
dan Ignition gas
f. Kemudian
ditarik burner gun
g. Diatur
tekanan udara didalam burner untuk suatu kondisi yang diinginkan
h. Selanjutnya
ditarik keluar oil gun dan dibersihkan nozzlenya.
15.
Black Liquor System
15.1
Uraian
secara umum
Mixing tank menerima
balck liquor yang berasal dari HBL storage tank dengan sedikit resikulasi
aliran black liquor dari spray gun dan ash hopper. Mixing tank dilengkapi
dengan sebuah vertikal agitator, yang mempunyai dua Impeller dan pipa
perforated horizontal yang dipasang pada bagian bawah dari mix tank dimana pipa
ini dapat digunakan untuk memanasi black liquor didalam mix tank dengan steam
medium pressure (12 bar). Mixing tank ini juga dilengkapi sebuah strainer plate
yang berfungsi untuk menyaring balck liquor sebelum masukke pompa. Untuk
memanasi black liquor sebelum masuk ke spray gun terlebih dahulu dipanasi
didalam direct dan indirect heater.
15.2
Liquor
Sprayer (Spray Gun)
Black liquor ke furnace
disemprotkan melalui 6 buah spray gun, dan ini diposisikan 3 setiap sisi, kanan
dan kiri kandungan air yang ada dalam black liquor sebagian akan di uapkan
sewaktu black liquor jatuh (disemprot) menuju charbed dan udara secondary yang
panas pada proses pembakaran didalam furnace. Area penyemprotan dari osscilating
spray gun dapat divariaskan dengan merubah panjang dari gun dan spray gun akan
berubah lip angel (sudut lidah dari spray gun) dari nezzle apabila area
penyemprotan harus dinaikan, misalnya karena rendahnya dry solid dari black
liquor sehingga pembakaran normal tidak dapat dinaikan spray gun dengan
memperpanjang leher (gun) dari spray gun tersebut. Level area penyemprotan dari
spray gun juga dapat diatur dengan menaikkan atau menurunkan gun dengan cara
yang sama seperti diatas dan besarnya area penyemprotan dapat dikurangi dengan
memutar ujung rod. Dalam mempergunakan lip angel (sudut lidah dari spray gun)
harus dipilih dengan hati-hati untuk dimensi furnace yang sesuai, karena untuk
furnace yang lebih lebar dan lebih besar penggunaan lip angle dari spray gun
yang terlampau kecil dapat menyebabkan masalah pembakaran pada dinding tempat
spray gun yang berlawanan dan kalau lip angle yang telampau besar akan
menyebabkan masalah pada dinding spray gun yang sejajar sehingga menimbulkan
carry over. Pergerakan ossilasi dari spray gun tidak boleh terlampau lebar dan
temperatur dibagian pengeringan tidak boleh terlampau tinggi pada ruang
pembakaran, karena dapat mempengaruhi atau menimbulkan terjadinya penguapan
dari senyaw alkali dan charbed. Tekanan penyemprotan yang tinggi akan
menyebabkan butir-butir penyemprotan yang kecil sekali, sehingga dapat
menyebabkan kemungkinan carry over dan penempelan deposit didaerah bagian dalam
boiler.
Temperature penyemprotan black liquor yang terlalu rendah akan
menyebabkan kurangnya distribusi yang merata sehingga akibatnya black charbed
(charbed yang gelap). Karena itu kondisi pembakaran yang diinginkan adalah
pembakaran black liquor yang mempunyai tekanan dan temperatur yang stabil. Tekanan penyemprotan dari black liquor yang
mempunyai viksositas yang tinggi dibutuhkan tekanan penyemprotan yang lebih
tinggi.
Catatan:
-
Setiap melakukan penggantian spray gun
(ossilasi spray gun) harus selalu mematikan terlebih dahulu motor ossilasi
spray gun dan kemudian menutup manual valve yang berada di depan control valve,
jangan menutup control valve dan yakinkan bahwa valve itu dalam keadaan
tertutup selama adanya pergantian selanjutnya dan di cek gasket spray gun dan
kuni coopling wellnya.
-
Setelah selesai penukaran spray gun
kemudian dibuka manual valve dengan pelan-pelan untuk memeberikan waktu kepada
ID fan untuk menaikkan kapasitas secara pelan-pelan.
-
Digunakan alat pelindung diri seperti
masker, sarung tangan, demi menjaga keselamatan sewaktu memasang dan
membersihkan spray gun karena sewaktu-waktu dapat terjadi semburan api dari
dalam furnace.
15.3
Green
liquor system
Pada pembakaran balck liquor
didalam furnace unsur-unsur organik pada
black liquor akan terbakar dan unsur anorganiknya akan terbakar menjadi
dalam bentuk smelt, ini mengandung bahan kimia seperti Na2CO3
dan Na2S, smelat yang terjadi ini terurun mengalir kedasar furnace
melalui celah-celah gundukan charbed dan dari dasar furnace akan mengalir turun
ke dissolving tank melalui smelt spout dimana smelt ini akan dilarutkan dari
recaustizing untuk diproses menjadi white liquor. Karena temperatur smelt yang
terbentuk didalam furnace yang tinggi yaitu antara 850-9000C
kemudian mengalir melalui smelt spout, maka smelt spout ini dilengkapi dengan
pendingin air didalamnya untuk mencegah adanya overheating. Selanjutnya untuk
menurunkan kebisingan dari ledakan yang akan terjadi apabila smelt jatuh dan
berkontak langsung dengan permukaan larutan didalam dissolving tank maka
sebelumnya smelt dipecahkan dalam bentuk butiran yang kecil dengan
mempergunakan steam medium pressure (12 bar) yang arahnya langsung berlawanan
dengan aliran smelt yang jatuh ke dalam dissolving tank dengan maksud yang sama
green liquor juga disirkulasikan dan disemprotkan ke smelt yang jatuh didalam
membantu mengurangi kebisingan yang disemprotkan mungkin terjadi. Density dari
green liquor didalam dissolving tank di control dengan pengaturan dari flow weak wash
dalam pipa yang terpisah masuk kedalam dissolving tank kurang. Maka dalam hal
ini masih dapat digunakan air sebagai pelarutan bila diperlukan. Ada yang
terjadi di dissolving tank yang terdiri dari campuran seperti udara, uap air
yang terkontaminasi dengan abu dan senyawa sulfur dikeluarkan ke udara atmosfir
melalui stack (cerobong). Untuk pengadukan green liquor yang merata didalam
dissolving tank dipergunakan agitator. Dissolving tank ini juga dilengkapi
dengan perpipaan untuk over flow, drain dan untuk inlet make up.
16.
Soot
Blowing System
16.1
Uraian
secara umum
Dalam mempertahankan kebersihan
pipa boiler seperti superheater, generating bank dan economizer sekaligus
mempertahankan efisiensi penegporasian recovery boiler, soot blower
mempergunakan sebanyak 25 set. 11 set di area Superheater, 6 set di area Boiler
Bank, 8 set di area economizer,steam untuk soot blower di peroleh dari header
primary superheater yang disupply melalui suatu line yang mempunyai sebuah
motor driver shut-off valve, flow meter dan sebuah temperatur indicator.
Kemudian dari steam supply line akan terbagi dua line steam. Yaitu satu line
untuk setiap sisi boiler diaman setiap line steam yang terletak di sisi kiri
dan kanan boiler masing-masing mempunyai sebuah pressure control valve dan
drain station. Apabila tekanan steam pada soot blower turun dibawah set point
maka sootblower sequncw akan stop dan soot blower yang sedang beroperasi akan
ditarik kembali, kemudian apabila soot blower trip semua soot blower akan
ditarik kembali dan main morized steam valve akan menutup secara otomatis.
Apabila terjadi atau terbentuk deposit abu yang tebal didaerah permukaan pipa
didalam boiler, maka perlu adanya dilakukan pembersihan pipa dengan cara
pencucian air. Dengan melaksanakan pencucian dengan air sebuah flawe pada
header soot blower di switch dan line soot blower di sambung ke line water wash
tersebut. Sewaktu adanya pencucian atau water washing dengan soot blower, power
ke setiap motor harus selalu pada posisi switch off karena kalau tidak soot
blower yang lain juga akan ikut beroperasi selama water washing berjalan.
17.
Smelt
Spout Cooling Water System
Recovery
boiler mempunyai 3 smelt spout yang posisinya pada bagian bawah dari furnace
yaitu pada smelt opening dar furnace. Temperature dari smelt yang tinggi
(850-9000) mengalir melalui smelt spout. Maka smelt spout perlu di
dinginkan dengan air secara terus menerus yaitu yang di supply dari smelt spout
cooling water system. Perlu diperhatikan bahwa smeltharus mengalir secara terus
menerus melalui smelt spout, karena kalau aliran tidak lancar akibat adanya
halangan dari smelt yang mengeras pada smelt spout (frozen smelt) maka
kemungkinan akan dapat terjadi thermal shock. Untuk itu diperlukan pembersihan
sesekali yang mengeras secara pelan dan hati-hati.
18.
Feed
Water System
Condensate
dan deminerlized water di masukkan melalui sebuah pipa ke daerator, dimana
didalam daerator ini oxygen dan gas carbon dioxide yang terdapat didalam
deminerlized water akan dipisahkan dan kemudian dengan gas non condensable, gas
akan di keluarkan ke atmosfir melalui sebuah pipa venting. Campuran dari
gas-gas ini dipertahankan pada kondisi titik didih dengan cara mensupply steam
low pressure (3 bar). Pada steam yang di supply diatur dengan sebuah control
valve pada steam low pressure line, dimana control valve akan menerima signal
dari sebuah pressure control loop yang akan mempertahankan yang diinginkan
(ditentukan).
Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.
BalasHapusSalam,
(Tommy.k)
WA:081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com
Management
OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant
Oli industri
terima kasih buat infonya, sangat membantu sekali .
Hapusbagaimana cara pembarakan pada furnace mengenai black liquor tersebut telah menjadi charbed dan agar menjadi smelt(lahar) kemudian akan diolah lagi. kira" kalor yg dibutuhkan berapa ya ??
Hapustrima kasih.